Posted by: hardychen on: December 14, 2010
Kemarin, disaat saya menunggu dengan was-was panggilan via Yahoo Messenger melalui seseorang, saya sempat berpikir untuk selamanya memblok orang tersebut supaya dia tidak bisa lagi melihat saya online.
Pikiran saya dipenuhi segala macam prasangka bahwa dia adalah orang sombong, orang yang materialistis, dan lain sebagainya.
Disatu sisi saya ingin dia tahu bahwa saya tidak lagi membutuhkan dia. Dia boleh melupakan saya dan dia boleh tidak khawatir akan apapun. Disisi lainnya suara hati saya berkata supaya saya jangan terlalu banyak berprasangka dan menunggu jawaban yang lebih pasti.
Akhirnya saya menunggu, dan muncullah panggilan itu.
Saya sedikit terkejut, namun saya tetap membalas panggilan itu.
Akhirnya terjadilah pembicaraan. Pada awalnya kata-kata yang saya ucapkan terasa tidak pas. Saya canggung dan kata-kata yang saya ucapkan terkesan terlalu bombastis ataupun terlalu sok, saya tidak mengerti persis bagaimana menggambarkannya, namun pada saat itu saya telah melakukan beberapa blunder.
Pada akhirnya saya menceritakan banyak rahasia kepadanya, saya juga tidak tahu mengapa. Mungkin dalam lubuk hati yang paling dalam saya ingin dia tahu bahwa saya menderita. Pathetic.
Semenjak itu emosi saya bergolak. Ketenangan yang saya rasakan melalui meditasi hilang seperti asap. Saya lupa segalanya, dalam hati hanya ada kemarahan, penyesalan, tekanan pekerjaan, dan kesombongan.
Saya mulai kehilangan keseimbangan sampai pada saat saya menulis artikel ini. Saya memiliki banyak kekhawatiran mengenai respon orang lain, saya punya pikiran tentang bagaimana seharusnya pekerjaan ini diselesaikan, saya juga punya kekhawatiran atas janji yang secara serampangan telah saya ucapkan kepada orang lain. Otak saya terasa penuh dan rasanya ingin pecah.
Saya permisi pulang untuk menenangkan pikiran saya.
Saya mencoba untuk bermeditasi namun saya selalu gagal, seolah-olah saya sudah lupa bagaimana caranya.
Sampai detik ini, saya masih ‘menderita’. Saya kembali dikalahkan oleh diri saya sendiri.