Hardychen’s Blog

Hidup Seperti Naik Sepeda Motor Di Jalan Raya

Posted by: hardychen on: December 14, 2010

Mungkin kedengarannya aneh.
Memang aneh, tapi memang mirip.

Saya tidak suka mengendarai sepeda motor di jalan raya. Sama halnya dengan kehidupan. Mungkin bisa dibilang saya benci dan muak pada kehidupan. Sampai taraf mana kebencian itu masih belum bisa saya pastikan, karena ada juga hal-hal menyenangkan dalam hidup ini.

Mengapa saya tidak suka mengendarai sepeda motor di jalan raya?
Yang pertama karena sepeda motor adalah kendaraan terbuka, sehingga setiap hari saya selalu harus menghirup asap kendaraan bermotor ditambah dengan debu. Kedua, wajah saya menjadi cepat kotor. Ketiga jalanan di Indonesia selalu banyak lubang yang sering membuat saya kewalahan. Keempat, naik sepeda motor jauh lebih besar resiko celaka dilanggar dibanding naik mobil. Kelima, meskipun saya sangat berhati-hati, orang lain tidak, akibatnya saya sering harus berjibaku ketika bertemu supir edan ataupun sesama pengendara motor yang seenak udelnya memotong jalur orang lain.

Seperti itulah penderitaan naik sepeda motor!
Merepotkan dan berbahaya.
Seperti itulah juga hidup saya! Banyak rintangan dan memeras emosi dan pikiran saya.
Saya sering berpikir alangkah enaknya menjadi bhikkhu di hutan. Nggak perlu repot mikirin segalan tetek bengek kehidupan.
Pertanyaannya, bisakah saya menjadi ‘bhikkhu’ di belantara kota yang semerawut dan penuh masalah ini?

Entahlah.
Kadang saya berpikir kok serius amat sih. Kalo memang gak mampu ya biarin, kalo mampu ya bagus. Kalo tidak ada solusi ya mampus, kalo ada solusi ya baguslah.
He… emang sih, tapi kalo semua urusan adalah punya sendiri, gak ada hubungannya dengan orang lain ya enak. Masalahnya hidup saya selalu terkait dengan hidup orang lain.

Bos saya selalu menekankan agar pekerjaan diselesaikan, tidak mau tau hambatan apa yang sedang saya alami. Teman-teman terlalu berharap pada saya, sehingga jika saya tidak membantu saya dianggap orang jahat. Keluarga juga selalu mendukung apa yang saya lakukan, namun harapan mereka berubah menjadi beban dalam hati saya.
Oh, ternyata hidup ini begitu rumit. Bisakah saya menyederhanakannya?

Harusnya bisa. Dan pastinya ada yang harus dikorbankan. Tidak bisa selama-lamanya saya selalu memikirkan orang lain, apalagi saya termasuk orang yang kurang peduli bahkan pada diri sendiri. Dengan kondisi seperti itu cemana pula kok malah mau ngurusin urusan orang lain.

Hah… nampaknya kali ini saya harus belajar seni cuek, acuh tak acuh, dan memanggil kembali diri saya yang dulu, yang selalu penuh dengan semangat dan antusiasme.

SEMANGAT !

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.