Hardychen’s Blog

Investigasi Diri Sendiri – 13 December 2010

Posted by: hardychen on: December 13, 2010

Pagi ini, keluar dari rumah saya lekas menuju ke jalan selat panjang untuk membeli sarapan pesanan dari teman kantor saya.
Namun saya salah memperhitungkan waktu, sehingga pada saat saya tiba, kiosnya belum buka.
Teman kantor yang memesan tersebut kebetulan sedang hamil, dan orang bilang bahwa wanita hamil yang sedang ngidam harus dipenuhi permintaannya.
Saat itu tidak terpikir oleh saya untuk menunggu karena saya tidak suka menunggu, selain karena abang penjual sendiri dalam penilaian saya bukan orang yang ramah. Jadinya saya langsung mengarahkan motor ke kantor.
Saat itu yang ada dalam diri saya hanya pikiran mengenai diri saya sendiri, bagaimana merasa bosan dan tidak nyamannya jika saya harus menunggu disana. Tidak pernah terlintas pemikiran untuk melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain.
Nampaknya latihan saya masih membutuhkan waktu untuk menjadi lebih baik.

Apa yang lebih dari diri saya adalah ego, dan apa yang kurang dari diri saya adalah jiwa sosial untuk membantu orang lain.
Saya bisa saja memaksakan diri untuk membantu orang lain, namun apakah itu akan menjadi diri saya yang sebenarnya?
Mungkin saya masih belum menyadari sepenuhnya kebahagiaan dari metta. Namun saya sangat antusias untuk terus melatihnya.

Cerita lain, pada pagi harinya ketika saya sampai di kantor, saya tidak telat.
Ini menunjukkan memang tadi saya berangkat kepagian, sehingga tidak heran kalau kios itu belum buka.

Saya hidupkan komputer, lalu yang terpikir pertama adalah menghidupkan Yahoo Messenger.
Ada seseorang yang saya harapkan dan juga sangat saya rindukan disana. Disisi lain ada juga perasaan takut, bagaimana jika harapan saya terbukti tidak terkabulkan.
Ada perasaan khawatir disana, ada juga perasaan sakit.

Mungkin seperti kata Ajahn Chah, saya seperti seseorang yang sedang mengngkut sebuah batu besar sepanjang perjalanan. Seseorang menasehati saya untuk meletakkan batu itu, namun saya menolak dengan alasan jika saya melakukannya maka saya tidak akan mendapatkan apa-apa. Beberapa kali orang tersebut meminta saya menurunkannya namun saya tetap bandel dengan alasan yang sama, bahwa saya tidak ingin kehilangan apapun.

Saya seperti orang bodoh, namun saya sendiri bukannya tidak menyadari hal itu.
Ajahn Chah mengatakan bahwa seseorang perlu menangis setidaknya 3 kali sebelum mengerti dan berhasil.
Saya tentunya sudah ‘menangis’ lebih dari 3 kali.

Sekarang ini apa yang saya rasakan adalah campuran antara semua perasaan itu. Perasaan kecewa dan sedih itu masih ada, namun sebaliknya perasaan terbebas dari semua itu juga mulai timbul.
Saya seperti berada di tengah-tengah medan perang, dan saya tidak tahu bagaimana hasil peperangan yang akan menentukan bagaimana kedepannya saya bersikap.

Satu-satunya hal yang membuat saya merasa sedikit tenang adalah nafas saya. Meskipun saya tidak selalu bisa memfokuskan pikiran pada nafas saya, namun setiap kali saya melakukannya saya merasa semakin tenang, dan kebahagiaan yang saya rasakan ‘citarasa’-nya berbeda.
Bisa dikatakan kebahagiaan tersebut tidak menguras emosi saya. Ini adalah hasil meditasi yang saya latih, namun saya belum boleh berbicara banyak mengingat meditasi yang saya latih belum sampai tahap yang memungkinkan saya untuk bicara banyak mengenai hal itu.

Saya terus berpikir dan mencari, dimana sebenarnya penderitaan itu berada. Apakah penderitaan itu milik saya? Bagaimana saya menghadapinya?
Semakin ‘mencari’ saya semakin ‘tidak tahu’. Saya melihat kekosongan dan pada akhirnya penderitaan itu luntur.
Tapi itu tidak bertahan lama, segera setelah saya berhenti mencari, penderitaan itu muncul lagi sedikit demi sedikit.
Saya merasakannya karena mungkin indera saya menjadi begitu sensitif.
Saya mendapatkan pengalaman baru, saya sedikit menyadari kebodohan pikiran, dan saya mulai perlahan-lahan mengatasinya, bukan dengan menghancurkannya, namun dengan memberinya perhatian.

Meskipun ‘dia’ datang lagi dan lagi, saya selaku tuan rumah harus selalu ‘menjamu’-nya lagi dan lagi.

Setiap kali saya lupa ‘menjamu’-nya, saya merasa ‘dia’ perlahan-lahan akan kembali menguasai ‘rumah’ saya.

Jika diibaratkan, saya merasa bahwa ‘dia’ sebagai agressor tidak seharusnya ‘dihancurkan’, melainkan kita harus membiarkannya ‘menghancurkan’ kekosongan. Karena hanya dengan demikian dia akan berhenti datang, karena sudah tidak ada lagi yang bisa dihancurkan.

Saya masih belum sampai ke ujung jalan, saya masih belajar. Maka kali ini saya menulis untuk mengingatkan diri saya sendiri, setiap pelajaran yang saya terima, semoga berguna terutama bagi diri saya di masa yang akan datang.

Yang perlu saya lakukan adalah endure, bertahan dan selalu mengingat siapa diri saya sebenarnya.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.