Hardychen’s Blog

Cinta atau Nafsu?

Posted by: hardychen on: April 23, 2009

Ada yang bilang cinta dan nafsu itu sama, ada yang bilang hal itu berbeda. Lalu yang manakah yang benar?

Mungkin semua orang merasa benar. Haha..

Orang tidak bisa membedakan mungkin karena orang tersebut hanya merasakan 1 hal saja yaitu nafsu saja atau cinta saja, sedangkan orang yang berpendapat bahwa hal tersebut berbeda, cenderung pernah merasakan kedua jenis perasaan itu dan membedakannya satu satu sama lain.

Kemudian perlu juga dipikirkan, kalau kedua hal itu adalah hal yang sama, mengapa bahasanya berbeda? Mengapa diciptakan kata yang berbeda untuk satu hal yang sama?

Apakah hanya sekedar bahasa yang mubazir layaknya kata papa, bokap, dan ayah?

Yah… mungkin saja. :)

Dalam pandangan saya pribadi, tentu cinta dan nafsu itu berbeda. Yap, ‘mungkin’ karena saya pernah merasakan perbedaannya.

Saya tidak sedang membahas mengenai cinta orang tua kepada anak ataupun cinta manusia terhadap alam/lingkungan, karena disini saya akan mempersempit pokok bahasannya yaitu cinta/asmara.

Menurut pandangan saya secara pribadi apa yang dimaksud dengan cinta yang sebenarnya adalah keinginan untuk saling membahagiakan, saling memperhatikan, saling menghargai, tidak saling mengekang, tidak posesif dan orientasi utamanya tentunya bukan orientasi seksual.

Semakin murni kadar cinta seseorang semakin kecil kadar nafsu yang terkandung di dalamnya. Dalam artian pihak yang mencintai hampir tidak memiliki nafsu apapun terhadap orang yang dicintainya selain nafsu/keinginan untuk membahagiakan pasangannya. Orang seperti itu sangat sulit untuk menjadi posesif, sangat sulit untuk menjadi cemburu, dan sangat sulit untuk berpikir ‘kotor’ tentang pasangannya.

Namun tentu saja cinta yang sangat murni seperti itu sangatlah jarang. Kebanyakan yang terjadi sekarang ini adalah cinta yang bercampur dengan nafsu, atau hanya sekedar nafsu doang.

Jika ada orang melihat cewe cantik, kemudian gairahnya meningkat, bulu kuduknya berdiri dan yang lainnya juga berdiri (you know what I mean.. LoL), itu jelas adalah nafsu.

Sifat alami nafsu adalah ketika keinginan itu semakin besar dan tidak terpenuhi, maka pikiran akan menjadi tidak tenang. 

Dan jika pikiran terlalu goyah dan tidak terkendali lagi, maka bisa jadi akan mengarahkan orang tersebut untuk melakukan perbuatan yang buruk. 

 

So… dalam hidup, manusia umumnya dikuasai oleh nafsu. 

Seperti anak kecil yang disogok dengan bonbon (permen) dan oleh karenanya bersedia melakukan hal hal yang  tidak baik, begitu juga halnya dengan pikiran manusia. Kenikmatan/kebahagiaan sesaat adalah alat kontrol yang efektif.

Lalu siapa yang mengontrol diri manusia? Tidak ada yang bisa disalahkan selain diri sendiri.

Memang sulit dipercaya, sebuah sistem dibuat untuk menjamin keberlangsungan hidup namun disisi lain terkadang sistem itu juga menghambat kemajuan diri sendiri dan menjadi destruktif pada saat sistem itu tidak stabil.

Sistem yang terdiri dari pikiran/perasaan/keinginan/nafsu manusia itu berjalan secara autopilot pada saat empunya malas untuk mengendalikan ‘pesawat’nya sendiri. Dalam bahasa yang lebih sederhana, manusia cenderung membiarkan sistem/nafsunya yang memerintah ketimbang dirinya sendiri yang mengambil alih kemudi hidupnya sendiri.

Pada satu saat dimana sistem “autopilot” itu sudah membuat hidupnya hancur, barulah sang empu tersadar dari tidur panjangnya, dan pada saat ia kembali berusaha mengambil alih kemudi hidupnya, ia tidak lagi terbiasa mengemudikan ‘pesawat’nya sendiri.

Maka dari itu, sebagai manusia kita harus menyadari keberadaan nafsu. Tidak berusaha menghilangkannya melainkan hanya mengenalinya dan tidak membiarkannya mengambil alih dirimu sepenuhnya.

Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengalahkan dirinya sendiri. Orang yang kuat adalah orang yang pikirannya selalu waspada dan disertai semangat yang kuat untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Orang yang kuat adalah orang yang penuh cinta (dalam arti sebenarnya). 

Dan cinta itu dimulai dari diri sendiri. Kendalikan hidup Anda, kendalikan nafsu Anda, dan setelah Anda mampu mencintai diri sendiri, pada saat itu juga Anda bisa mencintai objek eksternal diluar diri Anda. :)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.